Langsung ke konten utama

PENTING GAK SIH DIGITALISASI UMKM?
















UMKM ONLINE YUK!


Saat ini keadaan kesehatan masyarakat masih dalam keadaan darurat karena pandemi COVID-19. Keadaan New Normal sudah mulai diberlakukan, namun keadaan UMKM masih dalam penurunan, solusi yang disarankan pemerintah saat ini yaitu digitalisasi UMKM.

Menurut laporan katadata, Hasil survei menunjukkan hanya 5,9% UMKM yang mampu memetik untung ditengah pandemi. Namun di sisi lain, ada 82,9% pelaku usaha yang terkena dampak negatif pandemi. Bahkan 63,9% mengalami penurunan omzet lebih dari 30%. 

Berdasarkan post lampost.co, Menteri Koperasi dan UKM RI, Teten Masduki mengatakan "Ada tiga manfaat digitalisasi. Pertama, Koperasi dan UMKM yang terhubung dalam marked digital punya akses yang besar. Kedua, memudahkan pembiayaan. Ketiga, proses lebih efektif, efesien, berkualitas dan akuntabel. Digitalisasi meminimalisir hambatan yang ada" 

Dalam tiga manfaat ini tentu akan berpengaruh pada keberlangsungan UMKM kedepannya, sehingga patut untuk dicoba layaknya peribahasa "Seperti menggenggam bara, terasa hangat dilepaskan." artinya sesuatu yang dicoba-coba dahulu, bila tak suka / tak senang maka dilepaskan.

Tujuan akses internet dalam menjalankan usaha :
  • Memasarkan produk melalui media sosial
  • Mempromosikan barang/jasa
  • Mencari informasi untuk mengembangkan usaha
  • Mencari/memesan bahan baku
  • Memasarkan produk melalui marketplace
  • Mengirim email atau pesan instan ke pelanggan
UMKM yang memanfaatkan internet pun terbukti lebih mampu menahan tekanan krisis. Hasil survei menunjukkan, UMKM yang telah melakukan transaksi secara daring lebih sedikit terkena dampak negatif pandemi dibandingkan yang masih berjualan secara langsung.

Ada beberapa kendala yang dihadapi dalam penggunaan platform digital seperti :
  1. Kurangnya pengetahuan menjalankan usaha online
  2. Keluhan buruknya infrastruktur telekkomunnikasi yang digunakan
  3. Banyak saingan
Hal lain yang perlu diperhatikan bagi pelaku UMKM memasuki pasar online berdasarkan post okezone, menurut Asisten Deputi Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Destry Anna Sari dalam diskusi virtual, Rabu (15/7/2020) menjelaskan mengenai pentingnya digitalisasi,  pemerintah akan mendorong pelaku UMKM untuk merambah e-commerce dengan standar produk agar dapat bersaing.

Standar produk ini seperti kebersihan dan kesehatan produk yang dijual, menjual produk yang memiliki permintaan yang tinggi sehingga menjadi pilihan para konsumen. Strategi ini yaitu mengenali konsumen, utilisasi kapasitas melalui produk dan jasa, komunikasi keunggulan dimana menjadikan inovasi promosi yang diharapkan dapat membantu para pelaku UMKM di kemudian hari.

Dengan adanya digitalisasi ini dapat mengatasi permasalahan penurunan omzet penjualan UMKM ini apalagi di masa pandemi covid-19 penting untuk dicoba. Masyarakat yang melakukan transaksi online dapat disentuh lebih dekat perhatiannya dan mendapatkan peningkatan permintaan dari konsumen sehingga membantu para pelaku UMKM saat ini.



Penulis : Hilya Nurhidayanti
(dalam program kegiatan KKN Universitas Siliwangi 2020)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UMKM VS COVID-19, REAKSI PEMERINTAH?

PEMERINTAH TERHADAP UMKM DALAM PANDEMIK COVID-19 Penurunan UMKM Kondisi Covid-19 di Indonesia ini masih belum selesai pengaruhnya dalam kesehatan masyarakat, begitu pula bertemu dengan permasalahan umkm yang membuat keberlangsungan kegiatan jual beli semakin menurun. Berdasarkan post dari okezone bahwa Kementerian Koperasi dan UKM mencatat 43% UMKM berhenti beroperasi akibat pandemi virus corona atau Covid-19 pada April 2020. Sedangkan survei dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Padjadjaran, hampir sama yakni 47% UMKM di Jawa Barat sudah berhenti. Hal itu disampaikan oleh Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki pada diskusi secara virtual di Jakarta. Salah satunya contohnya dari databooks berdampak pada UMKM di bidang pariwisata. Pada kedua unit usaha tersebut, lingkup usaha mikro yang paling besar terdampak, yaitu sebanyak 27% usaha mikro pada unit usaha makanan dan minuman dan 17,03% pada kerajinan dari kayu dan rotan. Sebagai informasi, total kerugian dari sektor pariw...

PILIH BELANJA ONLINE/OFFLINE SAAT COVID-19?

gambar diambil dari  sini Online Kondisi saat ini yang melanda Indonesia, membuat banyak kekhawatiran dalam berbagai hal salah satunya aktivitas berbelanja. apakah harus memilih cara offline yang mendatangi toko/tempat berbelanja nya seara langsung atau offline yang tidak perlu datang namun mendapatkan produk agak lama bahkan terkadang tidak terestimasi kedatangannya di tangan. Aplikasi belanja online Penggunaan aplikasi belanja online, berdasarkan post Katadata.co.id  dalam siaran pers, Senin (13/4), ADA mencatat penggunaan aplikasi belanja online melonjak hingga 300% ketika social distancing diterapkan, demi menanggulangi penyebaran virus corona atau Covid-19. Kunjungan ke pusat perbelanjaan anjlok akibat Covid-19. Penurunan banyak terjadi sejak 15 Maret 2020, dengan rata-rata penurunan kunjungan di beberapa pusat perbelanjaan berkisar lebih dari 50%, dibandingkan dengan awal 2020. Aplikasi yang banyak dikunjungi berdasarkan post Katadata.co.id  yaitu  Shopee ...

TAKUT BELANJA DISAAT PANDEMI?

BELANJA SEHAT DAN TERHINDAR DARI CORONAVIRUS Adanya berbagai mitos mengatakan bahwa belanja online dari luar negeri membawa coronavirus dan muncul ketakutan untuk membelinya, namun hal itu juga terjadi di wilayah domestik tidak luput dari pikiran masyarakat. Namun ketakutan itu anehnya tidak menghalangi beberapa orang untuk membeli berbagai barang yang digunakan untuk perayaan hari-hari besar. Berdasarkan post Suara , terdapat warga yang berbelanja keperluan lebaran di pusat perbelanjaan dengan alasan agar bisa langsung melihat kualitas dan memastikan ukuran barang yang dibeli. Belanja online atau offline menjadi sebuah kebimbangan karena dua-duanya memiliki kemungkinan adanya perpindahan virus dalam produk yang dibeli ke tangan pembeli, meskipun belanja online menjadi sebuah pilihan yang paling banyak diminati saat ini. Penggunaan aplikasi belanja online, berdasarkan post  Katadata.co.id  dalam siaran pers, Senin (13/4), ADA mencatat penggunaan aplikasi belanja online melonja...